Target Tembus Peringkat 500 Dunia, Aldila Terbentur Masalah Pembiayaan

Di pesta olahraga terbesar se-Asia, Asian Games 2018, yang digelar di Jakarta dan Palembang beberapa minggu lalu, Indonesia menduduki peringkat 4 sebagai peraih medali emas terbanyak di bawah Korea Selatan, Jepang dan Cina. Salah satu medali emas yang didapatkan adalah berasal dari cabang olahraga tenis yang mana diraih oleh Christopher Rungkat yang berpasangan dengan Aldila Sutjiadi di kategori double.

Kemenangan serta peraihan medali emas di cabang olahraga tenis di ajang Asian Games tersebut merupakan kali pertama bagi Indonesia sejak terakhir kali mendapatkannya di tahun 2002 lalu.

Terkait dengan raihan medali emas tersebut, Aldila mengaku bahwa dirinya masih belum mau berpuas diri. Petenis wanita yang kini baru berusia 23 tahun tersebut masih memiliki segudang target lain yang lebih besar dari Asian Games dan ingin dicapainya.

“Untuk sekarang ini, target jangka pendek saya adalah mampu menembus peringkat 500 dunia,” ungkap Aldila yang kini baru berada di urutan 636 dunia.

Hanya saja, Aldila cukup realistis untuk meraih posisi tersebut tidaklah mudah. Ada banyak faktor yang bakal menjadi penghalang selain karena memang persaingan antar-sesama petenis. Faktor-faktor tersebut antara lain terletak pada pembiayaan untuk dapat mengikuti setiap turnamen yang diselenggarakan. Untuk satu turnamen saja, biaya yang harus dikeluarkan cukup besar.

Target Tembus Peringkat 500 Dunia, Aldila Terbentur Masalah Pembiayaan

Oleh karenanya, ketika berhasil meraih medali emas yang otomatis mendapatkan bonus sebesar Rp1 miliar dari pemerintah, Aldila mengaku akan menggunakannya sebagai biaya dalam mencapai targetnya itu.

“Nantinya, bonus itu (Asian Games) akan saya jadikan modal untuk membiayai ikut pertandingan. Biaya ikut suatu turnamen sangatlah besar karena banyak digelar di luar negeri,” kata Aldila.

Selain akan menggunakan uang bonus sebesar Rp1 miliar tersebut sebagai biaya mengikuti berbagai turnamen kelas dunia, Aldina juga mengatakan bahwa dengan uang itu, maka ada harapan bagi dirinya untuk dapat bermain di kelas atas atau Grand Slam pada tahun 2020 mendatang.
Target Tembus Peringkat 500 Dunia, Aldila Terbentur Masalah Pembiayaan“Mudah-mudahan saya dapat bermain di Grand Slam pada tahun 2020 nanti. Untuk saat ini, saya masih menggunakan biaya sendiri untuk ikuti turnamen-turnamen internasional, akan tetapi ada juga dukungan dari KONI Jawa Timur walaupun tidak semua biaya dicover mereka,” lanjut Aldila.

Dikarenakan besarnya biaya yang harus ditanggung dan dikeluarkan, maka selain akan mengandalkan uang bonus dari pemerintah serta bantuan dari KONI Jawa Timur, Aldila mengaku juga akan mencari sponsor guna dapat memberikan suntikan dana tambahan. Aldina mengatakan bahwa sekarang ada bantuan dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi untuk mencarikan sponsor yang tepat.

“Sampai sekarang saya masih terus mencari sponsor agar dapat membantu saya mengikuti beragam turnamen di luar negeri. Pak Imam Nahrawi juga ikut membantu saya mencari sponsor yang tepat dan terus memberikan dukungannya,” jelasnya lagi.

Aldila membeberkan bahwa biaya untuk berangkat ke luar negeri guna ikuti turnamen-turnamen berskala internasional itu bisa mencapai antara Rp500 sampai Rp750 juta dalam setahunnya. Oleh karena itu, jika tidak memiliki sponsor dan hanya mengandalkan dari dana sendiri, maka akan sulit rasanya bagi dirinya mampu terus menggapai mimpinya itu.

“Memang belum ada sponsor dan terus mencari. Dana sementara berasal dari ayah dan KONI Jawa Timur. Anggaran dalam setahun bisa mencapai Rp500 sampai Rp750 juta. Itupun tergantung ke negara mana yang dituju. Kalau hanya di kawasan Asia, maka sekitar Rp500 jutaan, sedangkan jika ke Eropa, biayanya antara Rp700 sampai Rp750 jutaan,” ungkap Aldila.